Jumat, 09 Oktober 2009

MENUJU KESATUAN SUAMI-ISTRI

Dalam Kejadian 2: 24 frase “menjadi satu daging” berasal dari kata “be united to his wife”: ini adalah sebuah proses dan nampaknya harus ada usaha dari laki-laki untuk menyatukan. Tepatnya, laki-laki harus mengangkat derajat wanita untuk menjadi satu. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar kesatuan suami-istri benar-benar terwujud? Pertama, meninggalkan orang tua (ay. 24). Menikah berarti meninggalkan orang tua dan tindakan meninggalkan ini tujuannya adalah untuk bersatu. Bagaimana bisa bersatu kalau tidak meninggalkan? Apalagi, apa-apa masih orang tua yang mengambil keputusan. Bahkan kebiasaan-kebiasaan orang tua kepada anak masih dipertahankan (orang tua buka sepatu anaknya, menyuapin makan anaknya, dst). Kedua, adanya kesediaan orang tua untuk melepaskan (ay. 24). Anak mau meninggalkan tetapi sering problemnya orang tua tidak mau melepaskan mungkin karena nilai budaya dan alasan psikologis. Harus ada kesediaan orang tua untuk melepaskan anak meskipun berat, agar suami-istri bisa bersatu (fisik, emosi, mental dan spiritual). Ingat, jangan nodai keimananmu dengan hidup sedaging tetapi tidak mau bersatu (kohabitasi/kumpul kebo).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar